Mas sudah jadi?” seorang perempuan  ’nongol’ di depan pintu sekretariat fosmit.  Seorang TKW yang pekan kemaren baru menikah di masjid Longkang chungli,  dengan wajah berbinar ceria bermaksud untuk mengambil surat keterangan menikahnya ke mas Anas. ‘Sebentar mbak‘ jawab mas Anas ” ini baru di print“.

Pagi itu seperti biasa para aktivis fosmit (forum silaturahmi muslim Indonesia di Taiwan) menambah ramai kegiatan masjid Longkang chungli. Pagi yang cukup cerah di awal musim panas di negeri Formosa, Taiwan. Langit berawan agak tebal, namun tidak terlihat tanda-tanda  akan hujan hari itu. Angin bersilir tidak terlu kencang, tidak juga membuat ngantuk. Masjid longkang adalah salah satu dari 6 masjid di Taiwan. Terlatak di chungli daerah selatan yang disebut distrik longkang, tepatnya di londong lu (londong rd). Walaupun tidak tepat di pinggir jalan, Area masjid ini terletak di belakang pertokoan di londong rd. Jalan masuk masjid dihiasi dengan gerbang hijau dan lantai di cat hijau muda.

Dengan arsitektural khas bangunan taiwan, keseluruhan tembok luar masjid di tempel dengan keramik kotak-kotak kecil berwarna hijau, kubah cukup besar di tengah bangunan masjid dan menara-menara tanggung di setiap pojok bangunan masjid. Namun menara-menara ini tidak di lengkapi dengan pengeras suara sebagaimana masjid di Indonesia. Masjid yang berukuran sekitar 15 kali 15 meter, terdiri dari dua lantai. Lantai dasar di gunakan untuk aula dan lantai dua di gunakan untuk tempat sholat laki-laki. Semantera di sekeliling masjid terdapat bangunan yang mengitarinya. Di utara masjid terdapat jalan utama masuk area masjid dari londong rd. Jalan masuk ini cukup untuk dilewati mobil walaupun tidak bisa dua arah berpapasan, namun cukup lebar untuk mobilitas jamaah yang tidak terlalu banyak di daerah chungli ini. Masih di sebelah utara masjid melintang ke arah timur, terdapat bangunan yang terdiri dari tiga lantai, yang juga memiliki dinding yang bermotif sama dengan dinding luar masjid. Lantai pertama terdiri dari 2 ruang belajar berukuran 5 kali 6 meteran, ruang tempat wudlu yang terdiri dari 2 shof berhadapan, WC dan kamar mandi shower. Ada 2 ruang tempat wudhu yang diperuntukkan untuk jamaah laki-laki dan satunya untuk jamaah perempuan. Lantai dua dan tiga terdiri dari ruang-ruang belajar dan ruang ustadz atau imam masjid. Sebelah timur masjid terdapat satu bangunan yang terdiri dari beberapa ruang. Ruang paling selatan digunakan untuk ruang tamu. Ruang ini cukup untuk menampung 20 orang yang terdiri dari shofa melingkar di setiap sisi ruangan dan meja besar di tengahnya. Sebelah selatan ruang tamu, terdapat satu ruang kantor takmir, dan satu kantor ustadz/imam masjid. Kemudian sebelah selatannya ruang tangga untuk naik ke lantai dua yang dipakai untuk jamaah perempuan. Sedangkan ruang paling selatan digunakan untuk sekretariat fosmit, organisasi TKI di wilayah chungli dan sekitarnya. Di pojok timur selatan area masjid terdapat halaman cukup luas yang biasa di pakai untuk main bulu tangkis, atau stan jualan setiap hari jumat, dan terdapat gerbang keluar dari area masjid. Kemudia di sebelah selatan masjid terdapat bangunan dua lantai. Lantai pertama adalah dapur dan lantai ke dua adalah ruang ustadz, sedangkan basemen di bawahnya digunakan untuk gudang. antara gedung dapur dan masji ada rang yang menempel masjid yang biasa digunakan untuk makan selepas sholat jumat. Di tempat inilah aktifitas muslim chungli dan sekitarnya beraktivitas.

Pagi ini, beberapa orang Indonesia Agus, Joko, dan Andi terlihat ada yang sedang sibuk bersih-bersih sekretariat fosmit, ruang aula masjid dan beberapa sedang ngorbrol sambil merokok, Dedi, Tatang dan Sardi. Terlihat di gerbang belakang Mas Endi, paggilan khas lelaki berambut setengah botak sibuk ngobrol dengan entah siapa di ujung telepon genggamnya yang seolah tidak pernah lepas dari telinganya. Sementera mas Bagus sedang sibuk berkoordinasi dengan Ahong, Imam masjid, untuk mempersiapkan pernikahan untuk dua mempelai pasangan Indonesia siang ini. Sementara aku menyibukkan diri cek-cek informasi di email dan facebook.  Sedangkan beberapa mbak-mbak TKW, mbak Tuti, teh Susi, bu Eni sedang sibuk di dapur untuk mempersiapkan konsumsi akad nikah dan makan untuk teman-teman Indonesia yang biasa ‘ngendon’ di masjid tiap ‘week end’. Beberapa mahasiswa hari ini terlihat muncul di masjid, Agung dan Raka. Pak Aris mahasiswa program doktor yang tinggal di Asia University, Taichung dengan gaya khasnya baju kaos oblong, tas ransel besar di gendongya dan topi kuning khas tukang parkir nongkrong miring di kepalanya, serta sepatu ket lecek, datang dan menyapa dan bercipika-cipiki dengan Mas Endi, mas Bagus dan TKI lainnya yang ada saat itu. Semua TKI terlihat ceria melihat kedatangan pak Aris. Walaupun mahasiswa doktoral dan pejabat di pemda Cilacap, pak Aris terlihat sangat dekat dan tidak membedakan pergaulannya dengan TKI. Sehingga dia di terima oleh TKI bahkan di seluruh Taiwan. Dengan penampilan dan pergaulannya yang luwes, tidak terasa ada sekat diantara dia dan para TKI dan TKW di Taiwan.

Fuh…panas” sambil meletakkan tas punggungnya di lantai dan merebahkan dirinya di lantai sekretariat fosmit, pak Aris mulai dikerumuni mas Anas, mas Bagus dan lainnya. “Dari mana saja pak Aris” tanya mas Bagus. “Iya nih keliatan capek banget”  mas Endi ikut nimbrung. “Biasa…. mbantu Pak Joko di KDEI” jelas pak Aris, “Minggu ini banyak tamu pejabat dari Indonesia“. ” Jadi KDEI butuh banyak guide untuk temu-tamu itu. Tadi juga banyak temen-temen mahasiswa di Taipei yang membantu KDEI.” Tiba-tiba Pak Aris sambil nyengir memanggilku “Oom…lagi ngapain, sibuk amat sih si Oom ini“. Mas Bagus menyahut “Iya, si Oom lagi saya tugasi untuk buat surat undangan buat acara bulan sembilan besok pak Aris, betul gak pak doktor.” sambil nyengir pula mas Bagus menggodaku. ” Betul pak Aris, ini mas Bagus dan temen-temen lagi banyak hajatan, termasuk rencana mengundang banyak pejabat bahkan Menteri untuk agenda bulan sembilan nanti” jawabku sambil meletakkan kertas di printer. “Dah selesai kok, tinggal di print.”

Ruang sekretariat fosmit yang tidak terlalu besar selalu di penuhi dengan TKI dan beberapa mahasiswa tiap akhir pekan. Dengan hanya terdiri dari satu pintu dan tiga jendala (mengarah ke depan, belakang dan satunya mengarah ke dapur) akan terasa pengap jika semua sudah masuk ruang ini. Apalagi jika para ahli hisab, julukan para perokok, memulai hobinya dalam ruang ini. Ruang ukuran 3 kali 6 meteran memanjang ke belakang. Dengan alas karpet kotak-kotak dari busa memenuhi seluruh ruangan, beberapa kotak sudah lecek dan bolong-bolong karena bekas mematikan puntung rokok. Dua desktop dan meja kecil di bawah jendela depan dan beberapa rak buku di ujung dalam sekretariat. White board dan beberapa papan pengumuman serta satu jam dinding menepel di dinding ruang sebelah barat.

“Ada agenda apa aja mas Bagus” tanya pak Aris “Mungkin kalo perlu saya sampaikan ke KDEI, agar nanti bisa di bantu“. Mas Baguspun hanya nyengir saja menandakan ketidakyakinan atas apa yang di janjikan pak Aris. “Ah acara biasa aja pak. Tabligh Akbar dan lounching sekalian pelantikan 100 anggota tim Depsus KMIT (Keluarga Muslim Indonesia di Taiwan).” Kembali pak Aris bertanya “Ngundang ustad siapa mas?“. ” Ya ini sedang di sesuaikan dengan MIT-MIT yang lain di KMIT, agar tidak rebutan ustadznya, soalnya MTYCIT (Majelis Taklim Yasin Chiayi Indonesia di Taiwan) juga denger-denger mo ngadain Tabligh akbar bulan delapan.” Gedubrak…tiba-tiba di pintu terdengar sesuatu jatuh…sambil nyengir mbak Katrin mahasiswa master NCU (National Central University) muncul di pintu, “ Assalamu’alaikum...”. Serempak kami menjawab “wa’alaikum salam...”, ” eh mbak katrin datang, mana es krimnya” tanya mas Endi dengan manjanya. “Es krim..es krim” sambil bersungut mbak Katrin mencari tempat duduk di antara kami “Mas Bagus, ini proposalnya, yang pake bahasa mandarin masih di terjemahkan sama Fatimah” lanjut Katrin melapor dan menyerahkan satu bundel draf proposal kegiatan ke mas Bagus. Sambil mematikan puntung rokoknya mas Bagus menerima proposal buatan mbak Katrin ” OK mbak Katrin, masih nunggu siapa lagi nih, habis ashar kita rapat ya?” tanya mas Bagus pada kami semua.

———–

Teringat ketika aku pertama kali berkenalan dengan para aktivis fosmit. Baik yang TKI-TKW maupun rekan-rekan mahasiswinya.  Mas Bagus, TKI asal Klaten, sudah 8 tahun bekerja di Taiwan. Penampilan yang sederhana, jenggot tipis di dagunya, namun tegas dalam memimpin fosmit. Lelaki yang hafal 4 juz Al Quran dan minimal 42 hadist arbain, adalah jebolan STM Pembangunan Jogja tahun 1998 dan pondok pesantren Pebelan Magelang tahun 1994. Berniat kuliah di Al Azhar Kairo, namun tidak kesampaian. Kondisi keluarga besarnya membutuhkan kemandirian finansial baginya dan keluarganya. Lahir dari keluarga yang cukup agamis, Mas Bagus yang memiliki nama panjang Bagus Kurniawan Rumekto, yang tumbuh di kalangan aktivis dakwah  pesantren, memiliki prinsip dakwah yang cukup kokoh. Namun pasca keluar dari Pabelan, Bagus muda mendapatkan lingkungan yang kurang beruntung di STM Pembangunan Jogja. Tiga tahun dilaluinya dalam lingkungan kost yang sangat dekat dengan dunia preman. Berbagai aksi premanisme sudah dilakukannya selama studi 4 tahunnya. Dari pencopeten, penipuan bahkan nyaris melakukan aksi pemerkosaan terhadap mahasiswa UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) yang kampusnya terletak berdekatan dengan sekolahnya. Dunia minuman keras bahkan ganja pernah dilaluinya. Kehidupan keras yang dilaluinya ternyata diingatkan Allah. Satu saat, ketika melakukan aksi penjambretan, dengan motor king yang menjadi andalannya, Bagus muda mengalami kecelakaan yang menyebabkan koma lebih dari 7 bulan. Hal inilah yang menyebabkan dia tidak bisa lulus saat kelas III STM.

Saat duit di kantongnya tinggal 10 ribu perak, dan tuntutan SPP yang harus di bayarkan sebelum tanggal 10  November 1996 saat itu, menggerakkan niat jahatnnya. Sudah tiga kali dia berbohong pada orang tuanya di bulan itu untuk memenuhi kebutuhan pemborosan finansialnya. Namun kali ini Bagus, entah kenapa dia merasa tidak tega lagi berbohong pada orangtuanya. Hingga dengan provokasi teman satu kostnya, Bambang, akhirnya dia memutuskan untuk mencoba melakukan penjambretan. Kali ini sasarannya adalah mahasiswi. Setelah survey di beberapa lokasi, maka diputuskan dia akan menjambret mahasiswi di sekitar RS Sardjito. Dengan asumsi, dilokasi ini banyak mahasiswi kedokteran umum dan kedokteran gigi yang relatif borju dan berasal dari keluarga kaya. Namun keberuntungan tidak berada di tangan Bagus muda. Aksi penjambretan gagal bahkan kecelakaan yang dialaminya. Ketika sudah mendapatkan sasaran, seorang mahasiswi berjilbab dan menggunakan honda astrea yang barusan keluar dari masjid Mardhiyyah, maka Bagus dan Bambang membuntutinya. Tepat di depan pintu masuk UGD sardjito, aksi penjambretan dilakukan. Dengan mudah tas kecil yang di bawa mahasiswi tersebut berhasil di bawa kabur. Namun ternyata, sang mahasiswi tidak tinggal diam, selain berteriak keras…jambret…jambret…dia mampu menjaga keseimbangan motornya dan mengejar Yamaha king yang di tumpangi Bagus. Bagus dan Bambang merasa dengan king yang dibawanya tidak mungkin terkejar. Dengan aksi kebut-kebutannya Bagus mengarahkan motornya kabur ke utara jalan kesehatan menuju PAU UGM dan terus ke arah timur menyusuri Selokan mataran. Naas memang hari itu, karena lalu lintas cukup padat saat itu yang bertepatan dengan jam pulang kuliah, maka Bagus harus bisa ngebut dan menghindari motor lain di sepanjang jalan dan juga menghindari bus-bus kopata yang juga ngebut dari arah yang berlawanan. Tepat di depan MM UGM, mahasiswi yang ternyata cukup lihai mengendarai motornya berhasil nyaris menyalip Bagus. Kemudian di tendanglah motor Bagus yang barusan oleng menghindari Kopata no 15. Tidak bisa menjaga keseimbangan, motor yang di kendarai Bagus oleh dan terhempas ke arah tengah jalan. Bambang sahabat karib yang di boncengnya terbawa motor dan masuk di kolong bis yang sedang melaju dari arah Jalan kaliurang. Sedangkan Bagus masih beruntung, dia hanya terhempas di tepi selokan mataram. Namun braaaakkk……..kepala yang tidak dilindungi helm, terbentur dengan keras pada tiang listrik di samping selokan. Saat inilah Bagus tidak tersadarkan diri dan koma selama lima bulan.

Sadar dari koma, dan terapi yang dijalani selama 2.5 bulan, ternyata sedikit membangkitkan kesadaran Bagus akan jalan hidup yang telah dilaluinya. Saat itupula dia sadar kembali dan teringat pesan ustadz Ma’ruf Lc saat di Pabelan. ” Le urip neng ndunyo ki ming sedhilut, ra sah neko-nekoMan sana sunnatan hasanatan falahu ajrahu wa ajra man ‘amila ba’dahu” (barang siapa yang melakukan kebaikan, maka dia akan mendapatkan balasan pahala dan pahala dari orang-orang yang mengikuti kebaikannya). Kesadaran ini membangkitkan kembali semangat hidupnya agar bisa bermanfaat kepada orang lain. Sehingga Bagus memutuskan untuk memberikan kebaikan kepada orang tuanya terlabih dahulu dengan menyelesaikan studi di STM nya dan tidak membebani keluarganya. Satu tahun kemudian Bagus lulus dengan predikat terbaik di STM. Kemudian dengan berbekal Ijazah STM, dia berusaha untuk mencari kerja agar tidak membebani keuangan keluarga. Anak ke 4 dari 5 bersaudara, Bagus merasa kakak pertama yang berhasil secara finansial telah mendapatkan tugas untuk membantu keluarga kakak ke tiga yang tidak mampu dan adik perempuannya. sementara kakak perempuan kedua, tidak mungkin untuk membantu saudara-saudaranya yang lain, karena tergantung suaminya yang juga masih belum berhasil membangun ekonomi keluarganya. Oleh karena itu Bagus memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Dua tahun di Jakarta, ternyata pulung juga belum menghampirinya. Akhirnya dia memutuskan untuk menjadi TKI. Satu tahun berkas di proses di salah satu PJTKI di jakarta, akhirnya tahun tahun 2001 dia mendapatkan kesempatan untuk diberangkatkan ke Taiwan.

Mendapatkan pabrik di Neli, Alhamdulillah, semangat haroki yang ditumbuhkan di Pabelan masih tersisa dan bertambah kuat di Taiwan. Melihat begitu banyak kemaksiatan di depan mata yang dilakukan oleh para TKI-TKW di Taiwan, ghiroh dakwahnya semakin meledak. Sangat sedih ketika banyak komentar antar TKW kepada TKW muslim yang lain. “mbak…ini Taiwan…aneh kok mau-maunya masih pake jilbab” begitulah kira-kira. Pun cibiran diantara para TKI ” di Taiwan kok gak mau minum. Seks di sini bebas mas……., ayo mumpung di Taiwan“. Nyaris hampir satu tahun kerjaan Bagus hanya di warung mami untuk nongkrong-nongkrong tiap malam minggu. Beruntung Bagus ketemu Jaelani, TKI senior yang sering ke masjid. Di tunjukilah Bagus ke masjid longkang Chungli. Di sinilah Bagus memulai karir dakwahnya. Dengan moto, tidak ada toko Indo yang tidak jual jilbab, mukena, dan Quran, dan tidak ada lagi perkelahian antar TKI di Taiwan, Bagus mulai mengumpulkan para TKI untuk aktif pengajian di masjid. “Mas Bagus, walau kita di Taiwan, Akidah kita….ahlaq kita dan ibadah kita tidak boleh luntur” begitu kata Jaelani yang kemudian menjadi panutannya. “Kita disini mencari rizki Allah, jangan sampai kita lepas dari keridhoan Allah…….Kita disini karena cinta kita pada keluarga, jangan sampai kita di benci Allah…… hari-hari kita dihabiskan untuk bekerja di pabrik, jangan sampai tidak ada waktu untuk berdakwah…..Karena bukti kesyukuran kita kepada Allah adalah makin dekatnya kita dengan Allah” Seperti itulah kira-kira Jaelani memberikan tadzkiroh untuk mas Bagus. Setiap malam Jumat, seperti apapun kondisi capek bekerja, Bagus selalu mengaji pada Jaelani. Mereka berdua saling mengingatkan dan bahkan sudah seperti saudara dekat. Hal ini karena doa robithoh yang selalu mereka lantunkan setiap hari.  Dan doa robithoh itu pula yang kemudian mengikat hati-hati para TKI dan mahasiswa yang mulai berdatangan meramaikan masjid longkang. Namun sayang Jaelani tidak memiliki waktu yang cuku panjang membersamai mas Bagus. 6 Tahun berselang, akhirnya Jaelani memastikan untuk kembali untuk berkumpul dengan keluarganya di Riau di awal 2004.

Sama halnya dengan Jaelani. Pertemuan kami, mas Bagus dan aku berkenalan di tahun 2008, saat pertama kali ku mulai studi program PhD di Yuan Ze Neli. Terpaksa melanjutkan studi di Taiwan, karena Bosku akan menugaskan satu tim LAPAN yang bekerjasama dengan ISTECS ke NASA akhir 2012. Beberapa diantara kami dikirim ke Tokodai, NUS, Kanada, Turki dan Tel Aviv. Kami berkenalan saat ada pengajian pekan ke tiga fosmit September 2008. Saat itu, pak Aris yang seharusnya mengisi tausiah tidak bisa hadir karena ada lab meeting, dan meminta mas Bagus untuk menanyakan kesanggupanku menjadi pengganti beliau. Setelah beberapa pekan ternyata saya bergabung di halaqohnya mas Bagus, dengan bimbingan pak Aris. Saat itu pulalah kami mulai bekerja sama meramaikan dakwah di Taiwan khususnya di Fosmit. Karena usiaku lebih muda, namun anak sudah dua, mas Bagus yang masih membujang saat itu, selalu memanggilku si Oom. Dan hampir setiap hari hp ku berdering dan diujung sana dengan suara khasnya “Gimana Oom….. agenda pekan ini beres…?” mas Bagus selalu mengingatkan pekerjaan administratif fosmit.

=================

“Oom…ayo rapat sudah di mulai” bentak Katrin membuyarkan ma’sturotku. “Bentar mbak….galak amat” jawabku, “wah sampe mana tadi….oh ya masih sholawat” batinku, kemudian aku teruskan sebentar, sambil beres-beres laptop dan LCD untuk di bawa ke hall masjid, khawatir di bentak istri mas Bagus lagi. Memang ummahat ini sangat luarbiasa, seperti tidak mengenal lelah. Tugas apapun dia kerjakan. Di Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan), Katrin termasuk aktivis yang paling menonjol, setelah 8 bulan kuliah di program Magister Remote Sensing NCU, ternyata dia siap di khitbah mas Bagus yang TKI. Keikhlasan dan kesiapan total berdakwahnya memang luar biasa. Hal ini menjadi panutan bagi akhwat dan para binaanya di Taiwan. Akhwat lulusan teknik geografi Unsoed (Universitas Jendral Soedirman) mendapatkan hidayah dan masuk Islam ketika semester IV tahun 2008. Dengan kecerdasan yang melebihi mahasiswa rata-rata, Katrin berhasil lulus cumlaude. Tahun 2009 dia berhasil mendapatkan beasiswa dan kuliah master di NCU. Dengan disaksikan kedua orang tua yang juga muallaf dan Imam masjid serta seluruh pengurus fosmit, Akad dan walimah sederhana di laksanakan di masjid longgang chungli April 2010, setelah Katrin sukses menjadi ketua panitia AISCT Formmit.

Oom…” teriak Mas Bagus dengan kopyah putih khasnya yang agak menceng di kepalanya “Cepetan dikit dong..tuh istri dah marah-marah“. Katrinpun nyengir sambil membenahi kerudung di jidatnya mendengarkan perintah suaminya padaku. Tepat jam 16.15 rapat persiapan tabligh akbar fosmit dimulai. Hall Masjid Longgang di lantai satu sudah di tata sedemikian rupa. Tikar plastik ukuran cukup besar 5 x 5 meter dibentangkan. Warna biru muda dan bergaris kuning seolah mengatakan, “nih lantainya bersih“. Berbagai macam buah dan minuman kotak serta roti telah tersedia di tengah. Semangka besar yang telah dipotong-potong, jambu biji juga telah di belah-belah, anggur, leci, dan bahkan ada pisang tersedia. Sementara minuman nai cha (teh susu) juga sudah tersedia untuk peserta rapat. Seperti biasa aku kebagian kultum, dan Mas Bagus memenej rapat dengan cukup efektif. Kerja semua seksi terevaluasi dengan cepat, dan beberapa rekomendasi yang harus dikerjakan masing-masing panitia juga cepat di sepakati. “Bagaimana Pak Aris? ada usulan? Bisa mbantu seksi apa nih” tanya mas Bagus pada Pak Aris yang sejak 2.5 tahun lalu terlihat futur dan sudah tidak mau aktif lagi. “Ya pasti saya bantu, cuma saya lagi cukup banyak kerjaan nih di lab” kata pak Aris.” Nanti lah pas hari H saya bantu-bantu“. “wah pak Aris tambah males aja nih” celetuk mas Endri dengan lugunya. Pak Arispun nyengir salah tingkah, sambil melirikku dan mas Bagus, seolah menuduh, kamilah yang membocorkan kefuturannya. Mas Bagus dengan sigap menyenggol mas Endri yang duduk di sebelahnya agar tidak ngledek pak Aris. Karena kami masih menaruh harapan besar pak Aris bisa kembali ke aktivitas dakwah seperti semula. Sungguh beruntung kami, pasca ditinggal  pak Aris, kami mendapatkan pembina baru, Mahasiswa Master NTUST. Kami menyadari, betapa dalam dakwah ini, penyakit futur tidak memilih senioritas dalam dakwah. Sebagaimana senioritas pak Arif yang ternyata menjadi ujian baginya dan bagi kami. Hanya karena perbedaan pandangan dalam syuro dan hasil syuro, beliau menyatakan diri non aktif. Sedangkan Katrin, ummahat muda dan baru mendapatkan hidayah dan masuk Islam, ternyata hamasah dan intima’ terhadap dakwah ini semakin menguat. Ubudiyahnyapun menjadi uswah bagi yang lain. Namun begitu Katrin terlihat sangat supel bergaul dengan siapapun. Bahkan di kampus, dia menjadi rujukan dan sangat dekat dengan teman-teman taiwanese yang nota bene non muslim. Beberapa kasus yang menimpa anak-anak Taiwan, overseas Chinesse dan mahasiswa internasional lain, berhasil di advokasinya dengan sangat baik.

Ok kalo tidak ada masukan lagi, mari kita berdoa agar niatan kita mendapatkan ridho dari Allah, kemudahan serta kelancaran, amiin. Jangan lupa pekan depan kita rapat lagi untuk melihat persiapan agenda-agenda kita. Mari kita akhiri syuro kita sore ini dengan bacaan Hamdalah” Mas Baguspun menutup rapat fosmit.

========

Seperti biasanya jam 20.00 tepat, seluruh anggota sudah lengkap dan siap mulai mengaji. Sebagai mas’ul Akh Arif mulai membuka dengan basmalah dan muqodimah. Dengan kehalusan dan kehati-hatian kalimat yang selalu menjadi ciri khas beliau, kadang menjadikan teman-taman lain menjadi gemes ” wah ini baru mulai dah di ajak ngantuk“. Seperti itulah halus dan lemah lembutnya pembawaan dan suara beliau. Akh Arif TKI asal madiun ini pernah menyelesaikan D3 teknik di Poltek ITS, universtias terbesar di Surabaya. Namun Allah mentaqdirkan beliau bekerja menjadi TKI di Taiwan. Sebuah pabrik di daerah Dansui Taipei menjadi mata pencahariannya untuk membiayai Ibunya yang sudah cukup lama mengidap penyakit kusta cukup akut, Ayahnya yang sudah meninggal sejak Akh Arif berusia 8 tahun, dan memiliki lima orang adik yang masih kecil. Ibunya berhasil membiayai Akh Arief hingga lulus D3 teknik mesin, dengan menjadi buruh tani di desa Luworo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. Namun penyakit kusta yang dideritanya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja ketika akh Arief sedang menyelesaikan kerja praktek di pabrik gula Rejo Agung Madiun. Hal ini memaksa akh Arif untuk belajar sambil bekerja hingga lulus untuk menjadi pengganti orang tuanya menghidupi keluarga. Pasca lulus, dengan harapan mendapatkan penghasilan lebih besar, Akh Arief mantan ADK ketika kuliah menetapkan untuk menjadi TKI di luarnegeri. Itulah yang memepertemukan kami setahun lalu.

Kemudian setelah tilawah giliran kultum kali ini, aku sodorkan tema tentang tantangan dalam berdakwah. Bahwa dalam dakwah kondisi lingkungan dan diri kita sendiri, adalah satu ujian dari Allah. Apakah kita mampu istiqomah di jalanNYA, atau akan terlempar dari jalan ini. Seperti biasa MR kami selalu meneteskan air mata, apapun materi kultum yang selalu kami pergilirkan memberikannya, dan siapapun yang memberikan. Kehalusan dan sensitifitas hati MR kami ini, tidak ada yang bisa menyamai. Apalagi kalau beliau bertemu dengan pak Arif, seakan tidak ada yang bisa menghentikannya untuk meneteskan air mata. Hal ini pernah ku tanyakan, mengapa beliau bisa seperti itu. Ternyata cerita kami tentang futurnya akh Arif menjadikan MR kami menjadi sangat khawatir akan keistiqomahan beliau sendiri di jalan dakwah. “ Ikhwati fillah, tahukan antum, bahwa futur di jalan dakwah tidak mengenal senioritas. Ada yang sejak SMA sudah menjadi aktivis 10 tahun…15 tahun…., sekarang futur dan menjadi musuh dakwah, begitu juga terjadi pada mereka yang baru saja ngaji….1 tahun, 3 tahun“. lanjut beliau “tidak ada garansi kita tidak terjangkit penyakit paling mengerikan dalam dakwah. Hanya keikhlasan dan terus berusaha sebagaimana Allah perintahkan waquli’maluu fasayarallahu ‘amalakum, yang mampu manjaga keistiqomahan kita” terang beliau sambil selalu terisak-isak.

Setelah kultum selesai seperti biasanya beberapa komentar dan tanggapan muncul. Mas Bagus seperti biasanya dengan semangat menyala-nyala berusaha mengingatkan kembali fenomena pak Arif yang awalnya menjadi MR kami, namun hilang di telan bumi dalam dakwah. Bahkan beberapa momen, kadang menyerang dakwah yang sedang kami bangun di formosa ini. Setelah mas Bagus, Akh Yanto, mahasiswa NTU (Natonal Taiwan University) juga mengingatkan fenomena futur yang pernah dialaminya ketika mendapatkan godaan Allah berupa seorang akhwat ketika menyelesaikan S2 nya di ITB. Akhirnya MR kami malam ini membahas risalah Bainal ams wal Yaum, yang difokuskan kepada kesiapan setiap aktivis dakwah terhadap perubahan dan tantangan zaman. Sehingga ibroh fenomena pak Aris dan mungkin yang lainnya, bisa diantisipasi dan lebih di fahami dari berbagai aspek dan sudut pandang. Beliau mengingatkan ” Tantangan dakwah dari zaman-ke zaman hingga saat ini ada yang tetap, ada yang beruhah. Yang tetap adalah konten-nya, yaitu selalu menjauhkan manusia dari penghambaan secara sempurna kepada Allah. Dan yang berubah adalah cara dan sarananya.

Maksudnya bagaimana stadz” Mas Bagus memotong.

Begini” dengan hati-hati beliau mencoba menjelaskan. ” Surat At Taubah ayat 24 menjelaskan, cara masuk godaan bisa bermacam-macam, bisa dari diri sendiri, anak-anak, orang tua, suami/istri, bisnis, kekayaan, jabatan dan lainnya. Namun orientasinya semua sama. Yaitu mengurangi kecintaan dan hubungan kita dengan Allah.

contohnya stadz?” Mas Bagus memotong lagi

Hampir setiap hari saya beraktivitas membantu beberapa agenda di KDEI di sela studi saya. Melihat pendapatan dan gaji yang begitu besar di dapatkan setiap bulannya oleh beliau-beliau dan rekan-rekan lokal staf sekalipun, kadang membuat orientasi hidup kita bergeser.” MR kami menerangkan. ” Pergaulan glamour, dan kadang lupa mana halal dan haram, bisa menjadi jalan masuknya penyakit futur“. Beliau melanjutkan sambil kadang mengusap tetesan air matanya “Sering beberapa diantara mereka sebenarnya sudah berusaha menjaga diri untuk tetap, paling tidak hanif. Namun kadang Istri mereka, rekan kerja mereka, menuntut untuk berlebihan dalam memandang dan mengejar dunia.Belum lagi wanita dan bahkan pria nakal di sekitar mereka yang selalu berusaha menggoda. ” tambah beliau sambil menghela nafas panjang. Seakan beban begitu berat di pundaknya.

tapi kan kita di haruskan menjadi kaya dan menguasai dunia?” dengan wajah yang serius dan kelihatan kurang puas Mas Bagus kembali bertanya.

Betul wahai saudaraku, namun di akhir ayat tersebut Allah membuatkan komparasi orientasi dan cinta. Apakah level kita terhadap dunia dan seisinya sama atau lebih baik dari kecintaan kepada Allah, RasulNYA dan berjihad di Jalan NYA? sehingga Allah mengancam dengan: maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” Sekali lagi MR kami membasuh air mata di pipinya setelah membacakan akhir ayat ini.

========

Malam ini kami mengakhiri pengajian rutin kami dengan mencoba memuhasabahi diri masing-masing, sejauh mana bobot dan bukti kecintaan kita kepada Allah dan RasulNYA? Siapkan kami menghadapi bahaya dan penyakit futur?

Tidak seperti biasanya, kami bisa bercanda dan tertawa lepas setelah pengajian malam senin. Malam ini, kami diliputi kegalauan yang amat sangat. Semoga Taiwan menjadi condrodimuko bagi kami untuk tetap tegar di jalanNYA. Serta bagaimana kembali merengkuh saudara kami pak Arif dalam bingkai dakwah ini.

(bersambung)